{"id":8085,"date":"2019-02-18T00:37:17","date_gmt":"2019-02-18T00:37:17","guid":{"rendered":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/2019\/02\/18\/sis-semarang-a-mosaic-of-learning\/"},"modified":"2021-06-21T05:00:12","modified_gmt":"2021-06-21T05:00:12","slug":"sis-semarang-mosaik-pembelajaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/id\/blog\/sis-semarang-mosaik-pembelajaran\/","title":{"rendered":"SIS Semarang &#8211; Mosaik Pembelajaran"},"content":{"rendered":"<p><strong>A Mosaic of Learning<\/strong><\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-7471 \" src=\"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/A-Mosaic-of-Learning-i.jpg\" alt=\"\" width=\"829\" height=\"553\" srcset=\"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/A-Mosaic-of-Learning-i.jpg 736w, https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/A-Mosaic-of-Learning-i-300x200.jpg 300w, https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/A-Mosaic-of-Learning-i-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 829px) 100vw, 829px\" \/><\/p>\n<p>Hingga 2017, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) badan pemerintah Indonesia melaporkan ada 74.183 pekerja asing saat ini di Indonesia. Kebanyakan orang akan berasumsi bahwa mayoritas ekspatriat bekerja dan tinggal di Jakarta atau Bali, dan ya, asumsi ini benar. Meskipun demikian, daerah lain di Indonesia juga menarik ekspatriat karena berbagai alasan. Hal ini dapat bergantung pada ketersediaan sumber daya, biaya real estat yang lebih rendah untuk ruang kantor dan pabrik, pengapalan, tenaga kerja yang tersedia, dan biaya yang terkait dengan tenaga kerja.<\/p>\n<p>Memperhatikan hal tersebut, pendaftaran siswa asing di daerah-daerah seperti Semarang dan kota-kota kecil lainnya di Indonesia terus meningkat dan ini sangat berdampak pada kemajuan pendidikan dan sosial di semua tahapan pembelajaran. Meskipun ada banyak keuntungan yang terkait dengan keragaman dalam pendidikan, hasil bagi siswa bergantung pada bagaimana keragaman diakui dalam pengaturan kelas dan sebagai bagian dari budaya sekolah.<\/p>\n<p><strong>Memahami Keberagaman<\/strong><\/p>\n<p>Banyak orang mungkin langsung berpikir tentang ras ketika mendengar kata keberagaman, padahal sebenarnya ada banyak area berbeda yang saling terkait, terutama di dalam kelas atau di seluruh sekolah. Agama, gender, ekonomi, dan bahkan budaya pembelajaran mungkin merupakan dinamika keberagaman yang menonjol. Sangat penting untuk memperhatikan hal ini ketika belajar dan mengajar<\/p>\n<p><strong>Pendidikan yang Lebih Baik dalam Populasi yang Beragam<\/strong><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-7470 \" src=\"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/A-Mosaic-of-Learning-ii.jpg\" alt=\"\" width=\"833\" height=\"573\" srcset=\"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/A-Mosaic-of-Learning-ii.jpg 656w, https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/A-Mosaic-of-Learning-ii-300x206.jpg 300w, https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/A-Mosaic-of-Learning-ii-600x413.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 833px) 100vw, 833px\" \/><\/p>\n<p>Lingkungan pendidikan yang beragam ras n di antara siswa sangat mempengaruhi hasil mereka. Studi telah menunjukkan bahwa pekerjaan siswa meningkat sesuai dengan jumlah keberagaman.Ketika siswa dapat belajar bersama orang lain dengan pengalaman dan pandangan yang sangat berbeda, hal ini membuat peserta didik lebih fokus dan membawa diri mereka lebih jauh, sehingga mereka dapat mengikuti orang lain. Pada akhirnya ini mendorong kreativitas dan keterbukaan pikiran, serta meningkatkan pendidikan. Peserta didik dengan perspektif yang berbeda memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dan kemudian bersama-sama menghasilkan solusi yang layak. Penting untuk diingat bahwa keberagaman jauh melampaui sekelompok siswa. Keragaman orang tua, guru dan staf sangat penting dan bermanfaat juga. Di SIS Semarang kami sangat beruntung memiliki organisasi siswa yang terdiri dari siswa dari 20 negara berbeda dan staf pengajar yang terdiri dari 8 orang dari negara berbeda.<\/p>\n<p>Ketika guru mampu berbagi pengalaman dan pengetahuan yang luas namun berbeda, setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang dan belajar. Ini juga memungkinkan siswa dari latar belakang yang berbeda untuk belajar dari berbagai guru yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda pula, membuka seluruh dunia yang mungkin belum pernah diekspos sebelumnya. Manfaat lain adalah peserta didik memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi dengan guru tertentu secara lebih efektif, meningkatkan kepercayaan mereka secara keseluruhan terhadap lingkungan belajar.<\/p>\n<p><strong>Peserta didik Merasa Lebih Nyaman Tentang Dunia<\/strong><\/p>\n<p><strong><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-7465 size-full\" src=\"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/Article-on-Diversity.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"665\" srcset=\"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/Article-on-Diversity.jpg 1000w, https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/Article-on-Diversity-300x200.jpg 300w, https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/Article-on-Diversity-768x511.jpg 768w, https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2019\/02\/Article-on-Diversity-600x399.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/strong><\/p>\n<p>Sebuah studi baru-baru ini menjelaskan peserta didik merasa lebih aman di sekolah dan di kemudian hari, ketika mereka sedang atau telah dididik dalam lingkungan yang beragam. Peserta didik diberi kesempatan untuk belajar tentang budaya, latar belakang dan agama yang berbeda hanya dengan berinteraksi dengan orang lain yang sangat berbeda dari diri mereka sendiri. Hal ini memungkinkan mereka untuk berkembang di luar zona nyaman mereka dan merasa lebih aman dan lebih terkendali ketika mereka secara tidak terduga menghadapi lingkungan yang berbeda atau harus terlibat dengan tipe orang yang berbeda. Pemberdayaan yang diperoleh membantu siswa dengan peluang yang lebih besar, membuka pintu baru. Ketika kita berpikir tentang mengembangkan siswa untuk mendapatkan pola pikir kewirausahaan, dididik dalam lingkungan yang beragam seperti SIS jelas merupakan salah satu bahan utama untuk menjadi sukses di abad ke-21.<\/p>\n<p><strong>Membangun Pendidikan yang Beragam<\/strong><\/p>\n<p>Keberagaman di sekolah lebih dari sekadar meyakinkan peserta didik dari berbagai latar belakang untuk bersekolah. Dibutuhkan pemikiran kritis oleh para pemimpin dan guru tentang bagaimana dan mengapa keragaman mempengaruhi pendidikan? Merupakan tanggung jawab kami untuk membantu peserta didik agar lebih memahami meskipun kita semua sangat berbeda dari berbagai latar belakang, kita semua harus tetap sama dalam hal menunjukkan rasa hormat dan toleransi satu sama lain, faktor kunci untuk membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) badan pemerintah Indonesia melaporkan ada 74.183 pekerja asing saat ini di Indonesia. Kebanyakan orang akan berasumsi bahwa mayoritas ekspatriat bekerja dan tinggal di Jakarta atau Bali, dan ya, asumsi ini benar. Meskipun demikian, daerah lain di Indonesia juga menarik ekspatriat karena berbagai alasan. Hal ini dapat bergantung pada ketersediaan sumber daya, biaya real estat yang lebih rendah untuk ruang kantor dan pabrik, pengapalan, tenaga kerja yang tersedia, dan biaya yang terkait dengan tenaga kerja.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8086,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_relevanssi_hide_post":"","_relevanssi_pin_for_all":"","_relevanssi_pin_keywords":"","_relevanssi_unpin_keywords":"","_relevanssi_related_keywords":"","_relevanssi_related_include_ids":"","_relevanssi_related_exclude_ids":"","_relevanssi_related_no_append":"","_relevanssi_related_not_related":"","_relevanssi_related_posts":"","_relevanssi_noindex_reason":"","footnotes":"","_links_to":"","_links_to_target":""},"categories":[70],"tags":[],"class_list":["post-8085","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sis-semarang-blog"],"wps_subtitle":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8085","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8085"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8085\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8721,"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8085\/revisions\/8721"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8086"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sisschools.org\/sis-semarang\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}