SIS Singapore Intercultural School — Best International School/Educational InstitutionPrioritas Utama Kesehatan dan Keseimbangan Pikiran - SIS Singapore Intercultural School — Best International School/Educational Institution

Designed and built with care, filled with creative elements

 

MENDAFTAR

 

 

TK

 

 

SD

 

 

SMP

 

 

SMA

 

Top

Prioritas Utama Kesehatan dan Keseimbangan Pikiran

naomi osaka

alvin hew

Written by Alvin Hew
SIS Group of Schools, Board Director

Pentingnya Memberikan Perhatian Khusus pada Kesejahteraan Mental di Sekolah

Naomi Osaka, petenis putri peringkat 2 dunia versi WTA, memilih untuk mundur dari Prancis Terbuka 2021—sebuah turnamen tenis Grand Slam—saat kompetisi tersebut masih berlangsung di Paris dan setelah ia memenangkan pertandingan pertamanya. Terlepas dari apakah Anda setuju atau tidak dengan keputusannya untuk mundur dari salah satu turnamen tenis terkemuka di dunia tersebut, pesan yang tersampaikan adalah bahwa stres mental merupakan masalah yang sangat nyata… tidak hanya dalam olahraga, tetapi juga dalam kehidupan. Kita perlu lebih peka dan waspada mengenai hal ini, terutama selama masa pandemi Covid-19.

Arnold Palmer—seorang pegolf profesional legendaris—pernah berkata:

“Golf adalah permainan ukuran inci. Namun yang paling penting adalah enam inci di antara kedua telinga Anda.”

Batas antara keberhasilan dan kegagalan sangatlah tipis.

Sekolah mengerahkan usaha yang luar biasa besar untuk menerapkan pedagogi demi menyampaikan pembelajaran dan mengasah pikiran. Namun, apakah sekolah sudah memberikan perhatian yang cukup terhadap kesejahteraan mental para siswanya? Selain tekanan dari sekolah dan pelajaran, apakah para guru dan tenaga pendidik menyadari tekanan berlebih yang ditumpahkan kepada para pembelajar muda kita melalui media dan media sosial?

Apa pesan kita kepada anak-anak muda ini? “Hadapi saja dan lanjutkan belajarmu”? Cara itu bisa jadi membantu, atau justru tidak sama sekali. Kita perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan dan menerima kenyataan bahwa para pembelajar muda kita membutuhkan bantuan sebelum kondisinya menjadi makin buruk.

Kini, lebih dari sebelumnya, kita merasa cerita-cerita seperti ini makin relevan, dan banyak dari kita mungkin pernah mengalami stres mental secara langsung atau mengenal seseorang yang harus menghadapinya. Sebagai pendidik, kita harus peka terhadap kecemasan dan kondisi mental rekan kerja serta siswa kita, dan memberi tahu mereka bahwa kita selalu ada untuk mereka jika mereka membutuhkan dukungan.

Untuk para siswa, kami telah memasukkan topik Pembelajaran Sosial Emosional (Social Emotional Learning / SEL) ke dalam kelas dan sesi wali kelas (homeroom). Kami akan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi dengan lebih peka terhadap perubahan suasana hati (mood) maupun sikap mereka. SEL menyediakan fondasi bagi pembelajaran yang aman dan positif, serta meningkatkan kemampuan siswa untuk sukses di sekolah, karier, dan kehidupan. Penelitian menunjukkan bahwa SEL tidak hanya meningkatkan pencapaian akademik rata-rata hingga 11 poin persentil, tetapi juga meningkatkan perilaku prososial (seperti kebaikan, saling berbagi, dan empati), memperbaiki sikap siswa terhadap sekolah, serta mengurangi depresi dan stres di kalangan siswa (Durlak et al., 2011). Program pembelajaran sosial dan emosional yang efektif melibatkan praktik yang terkoordinasi antara ruang kelas, sekolah, keluarga, dan masyarakat yang membantu siswa mengembangkan kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self-management), kesadaran sosial (social awareness), keterampilan berelasi (relationship skills), dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision-making). Informasi lebih lanjut dapat ditemukan dalam artikel yang ditulis oleh Roger Weissberg dan diterbitkan di Edutopia—bagian dari George Lucas Educational Foundation.

Di Jaringan Sekolah SIS (SIS Group of Schools), kami memahami betapa krusialnya kesejahteraan mental tidak hanya bagi siswa kami, tetapi juga bagi para tenaga pendidik kami. Bagi siswa, kami memiliki program-program yang siap dijalankan—baik sesi Wali Kelas maupun sesi Virtual Reality (VR) yang menyenangkan—untuk memeriksa kondisi pikiran para pembelajar kami sebelum kami memulai penyampaian materi pelajaran (pedagogi). Dengan memahami kondisi mental mereka, kami berada dalam posisi yang lebih baik untuk mempersiapkan mereka belajar dan mendukung perjalanan akademis mereka.

Di Jaringan Sekolah SIS, kami juga mengawasi dengan saksama kesejahteraan para guru dan anggota tim kami. Survei Iklim (Climate Survey) tahunan kami memberikan gambaran yang baik tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh para guru kami. Kami mengadakan sesi motivasi secara berkala untuk mempererat hubungan antarindividu, memastikan mereka tidak merasa sendiri, dan membuat setiap orang merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sebuah keluarga besar.

Pada akhirnya, tujuan utama—baik dalam olahraga maupun kehidupan—selalu sama: pikiran yang seimbang.

Keputusan berani dari Naomi Osaka ini mengingatkan kita bahwa kita perlu menjaga kesejahteraan mental diri kita sendiri maupun siswa-siswi di sekolah. Tahukah Anda bagaimana sekolah Anda menangani stres pada anak-anak Anda?

Pembaharuan terakhir: 6 Oktober 2026